Percetakan Pontianak > Artikel Creativ > Memasukan unsur Kearifan Lokal
 
 
 

Memasukan unsur Kearifan Lokal

 Oleh Beni Sulastiyo

 

Indonesia itu demikian kaya dengan budaya. Setiap daerah memiliki kretivitas budaya sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lain. Lihatlah motif batik antara satu daerah dengan daerah lainnya di pulau jawa, lihat pula motif kain tenun yang berbeda tiap daerah. Dikalbar saja ada sekitar 7 Kabupaten yang memiliki motif tenun yang khas. Belum lagi di daerah provinsi lain seperti Sumatera, Sulawesi, Sumbawa, hingga Papua.
Lihat pula belasan ribu ornamen dan motif yang unik dan indah. Dimana antara satu daerah dengan daerah lain memiliki ragam motif yang berbeda. Ragam motif dan ornament itu biasanya melengkapi hiasan rumah, kain, peralatan kerja, kerajinan, dan perlengkapan ibadah. Sayang rasanya jika kekayaan itu lenyap begitu saja karena tak ada orang yang mau melestarikannya.
 
Sebagai pekerja seni, tanggung jawab terbesar ada dipundak kita. Demikianlah yang juga kami lakukan di swadesiprinting. Sebagai perusahaaan yang bergerak di bidang desain komunikasi visual dan percetakan di pontianak, kami juga merasa bertanggung jawab untuk melestarikan khasanah kebudayaan daerah.
 
Tak ada salahnya bukan memuat hal-hal yang bersifat local content saat mendesain media komunikasi? Apakah itu berupa foto yang bernuansa budaya, motif, ornamen bahkan kata-kata dari bahasa setempat. Kita sudah harus mulai melakukan hal tersebut, kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi. Halah kayak jargon kampanye nya pak prabowo aja.
Beberapa orang desaigner enggan memuat kreatifitas lokal dalam karya-karya mereka karena beberapa alasan. Ada yang khawatir akan ditolak oleh klien yang rata-rata dipresepsikan sebagai klien berjiwa modern. Ada pula yang kahawatir nilai karyanya menjadi turun dimata klien.
Pengalaman saya justru sebaliknya, justru sangat mudah meyakinkan klien agar menerima lokal content dalam perancangan aneka media komunikasi mereka. Memang perlu waktu untuk mengedukasi klien agar dapat menerima ide dasar tersebut. Tapi percayalah hal tersebut tidaklah susah.
Mereka akan terkagum kagum jika kita mampu bercerita betapa sulitnya merancang sebuah ornamen atau motif pada kain tenun. Karena diperlukan empati, rasa cinta dan keterampilan yang tinggi. Betapa hebat orang-orang lokal ini yang telah mampu menciptakan ornamen, motif, kerajinan, pakaian yang indah dan unik-unik. Betapa kita orang yang mengaku modern dan berpendidikan tinggi ternyata tak mampu membuat sebuah ornamen, motif atau karya budaya yang lebih baik dari apa yang telah berhasil mereka buat, bla-bla...dst...dst. Tembak terus pokoknya hingga mereka mengakui bahwa nenek moyang kita adalah orang yang hebat orang yang super kreatif, orang-orang yang cerdas. Saat klien terkagum-kagum, maka di situlah peluang untuk menawarkan konsep desain yang memuat kearifan lokal.
Cara ini telah berhasil saya terapkan sehingga dapat merubah style media komunikasi beberapa instansi di kalbar. Sebut saja Bank Indonesia Provinsi Kallbar yang saat ini menjadi instansi yang begitu konsisten mengangkat khasanah budaya lokal dalam tampilan media komunikasi mereka, apakah untuk kover buku, kalender, buku agenda, banner, kaos, plakat, kartu ucapan lebaran, natal dan aneka gimmick. Semua selalu memuat khasanah budaya kalbar. Instansi lain seperti Kantor Pelayanan Pajak Kota Pontianak, bandiklat kalbar dan beberapa instansi swasta lain juga mau menerima konsep ini. Mereka mau karena mereka ikut-ikutan kagum dengan hebatnya kreativitas masyarakat lokal.
Berikut beberapa contoh desain yang memuat unsur-unsur kearifan lokal dan kekayaan budaya lokal. Indah bukan.
 
Saya sudah mecobanya, kapan giliran Anda?
 
 
 
Percetakan di Pontianak
2